Selasa, 11 Juni 2024 0 Komentar

Memoar Kuliah (2): Kesan Proses Belajar dan Orang-orang Baik

Prosesi wisuda itu mengingatkan saya akan satu hal tentang harapan kehidupan lebih baik di masa depan; betapa tidak, sembilan tahun yang lalu, saya adalah bagian calon mahasiswa yang terlunta-lunta dan paling kebal ditolak kampus berkali-kali dan pada akhirnya, setelah pertarungan berdarah-darah menuntut hak saya sebagai anak bangsa, kampus menerima saya sebagai mahasiswa. 

Pengalaman itu begitu menancap kuat dalam memori perjalanan saya memperjuangkan pendidikan; sebab, empat tahun yang lalu, saya pernah tidak percaya lagi akan hari yang baru suatu hari nanti dan sempat putus asa bahkan tidak percaya lagi pada rahmat Tuhan! (Tentang cerita bagian ini selengkapnya baca: Memoar Kuliah (3): Penolakan Kampus). 

***

Pada Mei 2016, setelah tamat sekolah menengah, saya mengajukan niat baik kepada keluarga bahwa saya hendak belajar di kampus tetapi keluarga tidak menjawab. Hanya hening yang saya pahami dalam sorot kebijakannya. Hanya angan-angan dan andai-andai yang saya jalani kemudian hari. (Tentang cerita bagian ini selengkapnya baca: Memoar Kuliah (1): Jalan Terjal Menuntut Pendidikan). 

Saya mengerti biaya masuk kampus terlampau mahal bagi keluarga kami; tetapi saya pikir, masih ada jalan yang bisa saya tempuh: jalur beasiswa. Begitu saya katakan kepada keluarga. Tetapi keluarga tetap bergeming, terutama Ibu; dan tetap saya tidak diperbolehkan atau lebih tepatnya tidak diizinkan belajar di kampus.

Langkah yang bisa saya tempuh setelah keluarga tidak mengizinkan untuk belajar hal-hal baru ialah pindah pesantren, pikir saya waktu itu.

Pada akhir November 2017, setelah saya kembali mengajukan niat baik kepada keluarga, saya pindah pesantren. Meskipun pada awalnya keluarga sempat tidak mengizinkan tetapi saya coba meyakinkan bahwa saya merantau untuk belajar sebagai bekal kehidupan saya dan keluarga kelak lebih baik.

Pada akhirnya keluarga mengerti maksud baik saya dan membolehkan saya pindah pesantren di Banyumanik, Semarang.

Pada Februari 2018, setelah khatam menghafal, saya kembali berencana belajar di kampus. Di luar Jawa itulah tempat belajar tujuan saya. Tetapi, setelah sampai di sana, saya kembali gagal kuliah. Kampus yang dijanjikan oleh sanak famili adalah hanya kebohongan semata. Saya kesal dan marah kepada siapa pun sebab waktu emas saya telah terbuang cukup panjang oleh orang-orang yang menghambat pendidikan saya.

Pada 02 Januari 2019, setelah berdamai dengan badai kehidupan, saya kembali masuk pesantren. Itu karena jalan masa depan sudah mentok. Bagi saya, pesantren bagaikan cahaya yang menerangi jalan gelap masa depan santri yang memiliki harapan besar. Di tempat pesantren ini kisah dimulai dan kepingan mimpi kembali saya susun sebaik mungkin. Di pesantren ini kisah proses belajar di kampus bermula.

***

Setiap hendak berangkat kampus saya harus menunggu angkutan umum dan pulang berjalan kaki dari kampus ke pesantren yang jaraknya cukup jauh. Tujuan saya berjalan kaki pulang kampus  berolahraga sore hari dan meminimalisir pengeluaran keuangan.

Tentu saja, karena kelamaan menunggu angkutan umum, terkadang saya telat masuk kuliah dan tak jarang oleh bapak dosen sering diingatkan supaya saya jangan telat melulu. Beruntung pada pertengahan semester tiga serangan covid meringankan beban berangkat kuliah dan memaksa kami belajar online. Itu artinya juga meringankan perjalanan kaki saya yang pegal-pegal kalau pulang kuliah di trotoar jalan.

Saya punya kesan mendalam selama belajar di kampus dan pesantren; ada banyak orang-orang baik yang mengelilingi saya selama proses belajar.

Ialah Kak Miftah dan Mbak Hani yang pernah mengantar saya ke pesantren Semarang dan Jember turut serta membantu proses biaya pendaftaran dan hutang biaya UKT semester awal kampus. Ialah Mas Diki yang sering membantu dan memberi pinjaman motor dan laptop ketika saya membutuhkan untuk belajar menulis dan keperluan lain.

Kepada Mas Diki saya punya kesan cerita mendalam.

Pada suatu waktu sekitar pukul setengah sebelas malam, ketika saya pulang mengikuti rekruitmen anggota komunitas kampus dan berjalan kaki dari kampus ke pinggiran jalan raya, dan angkutan umum sudah tidak ada lagi yang muncul tengah malam Mas Diki datang dari arah belakang dan kaget mengetahui saya terhuyung-huyung kelelahan.

"Loh, kok jalan kaki sampean," kata Mas Diki. "Kenapa nggak minta dijemput anak pondok, Mas."

"Hape saya mati sejak tadi," kata saya. "Mulai tadi jalan sambil nunggu lien lewat tapi nggak muncul-muncul, Mas."

Ia kemudian membonceng saya dan rasa letih saya kemudian terobati ketika sampai di pesantren. Itu bersamaan informasi grup whatsapp yang mengabarkan bahwa nama saya masuk bagian penerima beasiswa bidikmisi. Seketika itu saya bersimpuh sujud dan menangis sebab beban pikiran saya selama semester awal ialah bagaimana membiayai kuliah setelah jadi mahasiswa. Dan tidak mungkin saya meminta biaya kuliah ke orangtua sebab itu janji saya dahulu sewaktu meminta izin kuliah bahwa saya tidak akan memberatkan keuangan keluarga.

Karena itu saya jualan buku dan belajar menulis di media massa untuk bertahan dari gempuran kebutuhan kehidupan mahasiswa.

***

Pada akhir bulan 2021 badai kehidupan memaksa saya boyong dari pesantren sebab Ibu sakit dan saya tidak bisa lagi berangkat kuliah dari pesantren. Serangan covid dan penyakit Ibu memaksa saya harus boyong dari pesantren. Rasanya hantaman badai itu datang bertubi-tubi dan memaksa saya segera mengambil keputusan.

Saya bersyukur keuangan pada waktu kepulangan dari pesantren itu stabil: sisa laba penjualan buku, honor mengajar di sekolah dasar, les privat mengaji anak tentara, dan menulis di media massa cukup untuk mengobati Ibu dari penyakit diabetesnya. Meskipun setelah lima bulan berikutnya, Bapak ikut sakit dan saya kembali di koyak-koyak kebingungan dan kesedihan.

Kini saya merindukan momen belajar di tempat itu. Karena itu saya menulis catatan cerita ini. Kepada kawan-kawan kelas saya punya kesan cerita belajar bersama.


Imam yang sering menemani saya lalu lalang menikmati kesendirian dan curhatan berbagai hal nasib kehidupan. Fina si koordinator kelas yang baik dan cantik tetapi juga kadang menjengkelkan kalau sedang mood rusak. Mufid dan Isbad yang sopan dan baik dan pernah mengantarkan saya pulang kampus karena tidak punya motor dan uang. Sigit yang rajin belajar setelah berkenalan buku-buku bagus dan suka mengajak ngopi untuk mendiskusikan pemikiran para cendekiawan. Kasia yang sempat kesal kepada saya. Viella adalah teman senasib ketika perjalanan pulang kampus di dalam angkutan umum. Dikna yang menjengkelkan dan pernah menjotos perut saya hingga hampir kehabisan nafas tidak mungkin saya lupakan kecuali ia meminta maaf dan memaafkan saya yang sempat membuat ia jengkel karena menampilkan foto masa sekolah menengahnya.

Dan juga kawan-kawan lain: Ada Elsa, Rizki, Rifqian, Isnia, Musa, Miftah, Nisa, Ica, Kholifah, dan Yuni yang sebentar lagi jadi calon Bu Nyai. Ada Fenti, Wilda, Izzul, Masrur, Diah, Alif, Bahul, Dewi, dan Fajrul yang tampaknya kini makin bertenaga. Ada Vandi, Mohamed, Puy, Fita, Erlin, Jorna, Nadia, Ifa, Salwa, Nabil, Riko, Balqis, Roni, Novita, dan Salsa yang semuanya orang-orang baik yang pernah saya kenal.


Kepada kawan-kawan komunitas kampus saya juga punya kesan belajar dan cerita bersama.

Bersama Wahid saya sering terlibat adu pikiran dan mengakui ia pintar tetapi lemah ketika berhadapan  masalah dengan Azwar. Seorang teman yang sebetulnya bisa diajak ngopi dan berdiskusi panjang lebar kalau saja topiknya tepat pada hal lucu-lucu dan menggemaskan. Ada Bagus, Mas Ulum, dan Mas Rauf yang calon cendekiawan; serta Mas Yazid dan Mas Fian yang calon pengusaha. Ada Willy, Mbak Miftah, Mbak Windar, dan Mbak Aya dan kawan-kawan lain: Pras, Amel, Afifah, Rifqi, Mas Rohim, Mas Fauzi, dan seterusnya.

Kepada para dosen yang jadi guru dan mitra diskusi kalau saya bingung memahami suatu hal adalah keniscayaan: ada Ayah Nur Solikin, pembina komunitas intelektual (semoga beliau sehat selalu); ada Pak Anam, dosen pembimbing skripsi; ada Pak Munib, dosen inovatif dan tekun berbisnis; ada Pak Taqim, dosen detail yang hafal banyak jalan dan wilayah Nusantara; ada Pak Fawaizul Umam, dosen pengajar filsafat ilmu; dan Pak Faiz Rektor, dosen pengajar berpikir kritis-analitis di komunitas; ada Pak Fauz, dosen favorit mahasiswa baru; dan Pak Fauzan yang tak pernah henti-henti memotivasi mahasiswa selalu; ada Bu Nikmah, dosen pascasarjana yang baik hati; Pak Muhibbin, dosen pengajar paradigma ilmu; Pak Gun, dosen pengajar manajemen pendidikan; dan ada Bu Nurul, dekan yang suka bercerita pengalaman hasil penelitiannya yang unik-unik dan menantang di kelas kuliah.

Kepada kawan-kawan KKN saya juga punya kesan belajar dan cerita bersama selama empat puluh satu hari di Kalianyar, Ijen, Bondowoso. Ada Faqih, Fikri, dan Rudi serta Vina, Dini dan Mita, adalah teman yang enak diajak ngobrol hal apa saja: perasaan getir memendam api cinta, putus hubungan sama pacar, masalah keluarga, dan obrolan kekacauan organisasi kampus. Ada Resa, Sisil, Faiz, Asti, Mey, Liha dan Nikita adalah teman yang kini jarang ada kabarnya. Moga-mogo mereka sehat selalu.

Dalam proses belajar ini menyadarkan saya akan satu hal: Kita lahir menjadi orang baik ketika kita mampu dan dapat terus tumbuh menjalin hubungan baik serta menjaga harta kehidupan yang telah ditanamkan Tuhan sejak belia. Harta kehidupan yang dimaksud ialah sifat adil dan jujur, penuh kasih sayang, tanggung jawab, dan cerdas menjalin hubungan baik dengan sesama ... meskipun terkadang pada suatu waktu tertentu kita saling bertikai dan kemudian menjalin hubungan kembali fitrah kita sebagai manusia.

Saya tidak tahu kapan saya akan menemukan tempat belajar dan orang-orang baik seperti mereka  yang menyenangkan lagi setelah ini. Mungkin, universitas mertua adalah jawabannya, aih. Maksud saya universitas kehidupan. Selamat berjumpa kembali di lain waktu, Kawan.

0 Komentar

Memoar Kuliah (3): Penolakan Kampus

Malam itu, tepat usai tahun baru, pada 02 Januari 2019, adalah awal kedatangan saya pindah pesantren ke Kaliwates Jember. Ialah setiap hari bagi santri baru adalah hari-hari yang baru.

Tapi sesuatu disebut baru apalagi santri mampu dan dapat terus tumbuh beradaptasi dengan harapan dan impian yang mengitari lingkungan kehidupan sekitarnya. Itu sesuatu yang rumit dan butuh adaptasi panjang mengikuti alur kehidupan.

Tapi apapun tantangannya sebagai santri baru memaksa dirinya harus beradaptasi dan sebisa mungkin mengerti keadaan atau peluang kesempatan belajar. Dengan peluang kesempatan itulah ia dapat tumbuh dan terus belajar memperbaharui diri yang baru dari diri yang pernah layu.

***

Setelah setengah tahun berada di pesantren pikiran kembali melayang-layang terkait keputusan melanjutkan kuliah. Harapan itu tak pernah surut bergulat dengan peristiwa tiap hari ketika santri lewat depan kamar saat saya berdiam diri di kamar sendirian melamun tentang pendidikan masa depan. Suatu impian masa depan yang tak pernah gampang ditaklukkan. Begitu bisikan hati dan pikiran berkecamuk kacau setelah melewati penolakan kampus berkali-kali saat saya coba mendaftar kuliah.

Anda tahu, ditolak kampus berkali-kali ketika itu jauh lebih menyakitkan ketimbang ditolak perempuan mengajak pacaran. Itu pengalaman paling berpengaruh besar dalam perjalanan saya selanjutnya, dan bagaimana saya menyikapi persoalan kehidupan mendatang yang mungkin akan jauh lebih mencekam memecahkan onggokan batu besar di tengah jalan.

Saya merasa pada waktu itu seperti berada dalam kondisi terendah, berada dalam kondisi diambang putus asa, dan memang setiap orang akan mengalami fase pengalaman terendah, bukan dalam arti ia paling terendah dari sekian banyak manusia, melainkan titik terendah dalam arti melewati proses tantangan mencekam melewati persoalan kehidupan yang mungkin taruhannya ialah impian dan nyawa.

Saya pernah berada dalam kondisi diambang putus asa seperti itu. Satu pengalamannya ialah ketika memperjuangkan hak pendidikan yang sempat terlunta-lunta dan ditolak kampus berkali-kali. Kira-kira catatan proses penolakan kampus itu jika ditulis pengalamannya seperti ini alurnya.

Percobaan pertama pendaftaran kuliah.

Pada malam hari itu saya membuka website pendaftaran kampus dan ternyata dalam laman resmi tertera bahwa ijazah saya sudah kadaluwarsa. Artinya kampus hanya menerima ijazah angkatan kelulusan yang telah ditetapkan sesuai ketentuan. Sementara ijazah saya tidak masuk dalam bagian ketentuan tersebut.

Akhirnya saya menghubungi pihak kampus lewat email dan dibalas oleh pihak kampus. "Maaf, kami hanya menerima angkatan mahasiswa baru sesuai ketentuan aturan". Pikiran saya langsung pening setelah sekian hari menunggu balasan email dan mendapatkan jawaban menyakitkan dan mendiskreditkan yang entah apa maksud dan fungsi aturan seperti itu.

Percobaan kedua pendaftaran kuliah.

Saya mencoba klarifikasi langsung ke pihak kampus di bagian rektorat pusat dan menanyakan hal serupa namun saya bumbui pertanyaan lain dengan perbandingan, "Mengapa kampus PTKIN lain seperti UINSA masih menerima ijazah angkatan 2016, sementara kampus di sini tidak menerima?"

Pihak kampus menjawab seenaknya. "Ya ... Mas kalau begitu daftar kampus di sana saja". Kendang telinga saya langsung pecah, mata saya bergocoh dengan raut muka monster.

Percobaan ketiga pendaftaran kuliah.

Saya menanyakan banyak hal kepada kawan para aktivis kampus bagaimana sekiranya saya bisa mendaftar kuliah, barangkali mereka bisa membantu dan mencarikan orang petinggi kampus yang bisa saya temui untuk bernegosiasi, saya ingin menyampaikan maksud baik saya untuk belajar, tetapi rupanya para kawan aktivis kampus itu tidak punya relasi ke arah situ. Akhirnya negosiasi buntu.

Percobaan keempat pendaftaran kuliah.

Kabar bahwa saya ingin melanjutkan kuliah ternyata tersebar di keluarga pesantren, tempat di mana saya bermukim diri mengajar para santri. Pengasuh pesantren jadi dosen. Akhirnya, oleh pengasuh, saya dibantu dan dicarikan jalan bagaimana supaya saya terdaftar kuliah namun tetap saja tidak bisa oleh sebab aturan yang ada katanya.

Keluarga pesantren sempat juga menawarkan saya kuliah di luar negeri tetapi saya langsung memohon maaf. "Sempat punya impian kuliah ke luar negeri, Gus. Cuma pihak keluarga tidak mengizinkan kalau terlalu jauh," curhat saya. "Dalam negeri saja saya maksa ke orangtua tetapi tetap tidak bisa. Tahun ini baru saya mengajukan lagi mau kuliah, baru diizinkan oleh Ibu".

Kabar bahwa saya ingin kuliah itu makin menyebar di kalangan guru SD tempat saya mengajar alquran pada waktu pagi. Salah satu Ustadzah Hafizah ternyata suaminya dosen syari'ah di kampus. Ia membantu saya mencarikan jalan lewat jalur salah satu dekan. Yaitu suaminya itu. Tapi tetap suaminya tidak punya otoritas wewenang mengubah aturan yang ada. Saya mengucapkan terima kasih kepada Ustadzah Hafizah. Ia kemudian menawarkan kampus di tempat lain namun saya katakan keluarga setujunya kuliah di tempat kelahiran saja. Ustadzah Hafizah itu paham kondisi batin seorang Ibu dan menasehati saya agar bersabar supaya menemukan jalan keluar. Siapa tahu masih ada jalan harapan, katanya.

Anda tahu, bukan; bahwa memupuk harapan berarti harus menyiapkan diri menghadapi kekecewaan. Sejak harapan kuliah pupus di tengah jalan berkali-kali, dalam diri saya seperti ada perasaan kecewa dan putus asa, bukan saja pada diri sendiri maupun pada orang yang telah mengkhianati, melainkan juga kepada orangtua sebab sejak lama saya sudah meminta izin kuliah kepada orangtua, khususnya Ibu, namun tidak diperkenalkan oleh keluarga. Setelah saya empat tahun lulus sekolah menengah, baru kemudian orangtua mengizinkan saya kuliah.

Apa itu tidak membuang-buang waktu namanya?

Karena itu, sebetulnya saya sempat malas hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sebab saya sudah telat cukup lama. Namun karena lingkungan menghidupkan impian lama, secercah harapan kuliah tak pernah lepas dalam pikiran.

Penampakan santri kuliahan saban hari mondar-mandir depan kamar saya tiap pulang kampus, menyadarkan dan membangunkan tidur panjang saya menuntut hak menempuh pendidikan perguruan tinggi.

***

Pada 29 Juli 2019 ialah tepat penutupan akhir pendaftaran kampus. Saya mendaftarkan diri setelah menemukan jalan terang lewat proses komunikasi salah satu panitia penyelenggara. (Tentang bagian ini kita cerita di lain waktu dan melihat bagaimana rezeki itu bekerja sesuai rencana yang maha kuasa). Pada proses ini banyak orang-orang baik membantu saya menyiapkan segala kebutuhan pendaftaran kampus, termasuk biaya. Saya tidak akan melupakan kontribusi orang-orang baik itu seperti tertulis dalam catatan lalu di sini.

Pada 31 Juli 2019 ialah waktu tes ujian pendaftaran kampus. Saya tidak belajar sama sekali sebab waktu terlampau singkat dan saya memilih membaca buku-buku apa saja yang akan saya pelajari di bangku kuliah nanti. Saya punya keyakinan kuat bahwa saya akan diterima sebagai mahasiswa sebab program studi yang saya ambil adalah tergolong baru dan sepi peminat. Karena itu saya yakin saja. Pasti diterima, kata teman saya. Dan benar. Pernyataan dan keyakinan kuat itu tidak meleset barang sedikit pun.

Rabu, 05 Juni 2024 0 Komentar

Memoar Kuliah (1): Jalan Terjal Menuntut Hak Pendidikan

Ibu sebetulnya tidak ingin aku kuliah. Ibu lebih senang jika aku mondok saja atau mengajar atau bekerja sambil menabung pundi-pundi rupiah. Entah mengapa Ibu tidak menginginkan aku kuliah. Ibu tidak memberi alasan jelas dan masuk akal.

Tetapi, lambat laun, aku paham mengapa Ibu, lebih tepatnya, tidak mengizinkan aku kuliah: semasa sekolah menengah aku sering telat bayar tagihan (selain sering telat masuk sekolah) bahkan hampir tidak bisa ikut ujian nasional lantaran tak bisa bayar cicilan dan, oleh Ibu guru, aku dan kawan-kawan senasib, dimarahi dan dipermalukan di depan kelas, hanya karena telat bayar tagihan sekolah. Begitu teganya guru semacam itu. Dimana letak keadilan dan kebijaksaan dalam hati guru semacam itu?

Aku bersyukur pada waktu itu masih ada guru yang punya hati manusiawi dan memberi kelonggaran waktu untuk kami bisa ikut ujian nasional dan kami, para siswa-siswi miskin itu, terpaksa diluluskan.
***
Delapan bulan setelah dinyatakan lulus SMA, sekitar Mei 2016, aku sempat bilang kepada Ibu kalau aku ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi namun tidak diizinkan, akhirnya aku minta izin kepada Ibu bahwa aku ingin pindah pondok saja; tetapi rupanya Ibu masih tetap bersikukuh tidak mengizinkan aku pindah, apalagi kuliah.

Aku kesal kepada Ibu. Marah. Mengutuk diri. Aku bertanya-tanya pada diri sendiri mengapa anak muda lain bisa melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi, sementara aku tidak bisa dan tidak diizinkan? Rerumputan dan bebatuan di sekitar tempat aku berdiam diri merenung tidak menjawab, tanaman padi hanya bergoyang-goyang kesana kemari mengikuti hembusan angin sore hari.

Aku segera sadar dan paham bahwa ada keterbatasan dalam kehidupan yang aku jalani. Itulah kenapa sewaktu sekolah aku sering telat bayar tagihan, menjanjikan akan bayar setelah punya rezeki, dan tak jarang aku meminta tenggat waktu kepada Bapak Ibu guru untuk bisa melunasi cicilan tagihan hingga bulan depan.

Tetapi keterbatasan tidak berarti bahwa aku tidak punya hak melanjutkan pendidikan bukan? Begitu aku coba berpikir positif menatap masa depan di suatu sore pada saat masih di pondok.

Selepas sekolah itu aku coba bernegosiasi kembali pada saat Ibu dan Bapak menjenguk aku di pesantren, dan aku bilang bahwa aku tidak bisa terus menerus menghafal Alquran di sini. Pesantren awal tempat aku belajar. Aku bilang sekali lagi kepada Ibu bahwa aku ingin pindah pesantren lain, aku butuh sistem sosial pendukung agar aku bisa berkonsentrasi pada saat menghafal Alquran. Moga-moga ibu mengerti maksud baik aku kali ini.

Pindah dan Kembali Lagi ke Pesantren Lama Sebentar

Pada keputusannya Ibu mengerti maksud baik aku dan membolehkan aku pindah ke pesantren lain di Semarang. Akhirnya, pada Jum'at 12 Januari 2017, aku jadi berangkat ke kota lawang sewu tersebut. Itu diizinkan karena di kota sana ada teman pondok; juga karena mendapat beasiswa; dan juga karena terlanjur mendaftar jadi calon santri baru program menghafal Alquran dalam waktu satu tahun.

Pada 02 Februari 2018 ialah kepulangan aku dari tanah rantau training menghafal Alquran di Semarang itu. Aku memutuskan kembali ke pesantren semula, mengabdikan diri di sana sampai ramadan tiba. Tujuan aku kembali ke pesantren semula, selain tetap belajar dan mengabdi diri kepada ilmu dan guru, ialah membenahi apa yang belum selesai aku kerjakan, menata tugas yang diberikan kiai, dan menyerahkan perpindahan tugas kepada santri senior sebelum akhirnya aku pindah belajar ke tempat lain.

Wajah Penyesalan dan Kegagalan Kuliah

Setelah boyong dari pesantren awal, aku mengukuhkan diri kembali memperjuangkan kuliah, tetapi aku tetap gagal. Kegagalan kali ini cukup membekas dalam kehidupanku dan memupuk hati nurani aku pada satu prinsip tegas: setiap warganegara (tanpa memandang latar apa pun) punya hak yang sama dalam menempuh pendidikan, menikmati akses pendidikan bermutu hingga ke perguruan tinggi.

Ceritanya ada "orang dalam" menawarkan aku kuliah dengan jaminan beasiswa di suatu daerah luar Jawa; syaratnya aku harus sambil bantu mengajar di yayasan miliknya. Keluarga mengizinkan. Itu berarti aku diperkenankan kuliah di luar Jawa. Sesuatu mustahil sebetulnya, mengingat keluarga sebelumnya tidak setuju jika aku kuliah terlalu jauh. Tetapi bagaimana pun aku harus tetap kuliah.

Lagi-lagi aku berpikir positif dan mungkin ini jalan terbaik yang harus aku tempuh, kendati perjalanan cukup jauh.

Sebelum keberangkatan aku menanyakan apakah di daerah kampus sana ada program studi yang aku minati; dan pihak sana menjawab ada. Oleh karena katanya ada, sebelum keberangkatan aku menyiapkan segala berkas administrasi pendaftaran kuliah, melunasi tanggungan ijazah sekolah dan kebutuhan lainnya. Berangkatlah aku ke daerah yang dituju, tetapi sesampainya di sana aku mendapat kebohongan janji. Alih-alih mendapat beasiswa, kekesalan dalam dada setiap hari menyala-nyala.

Itu terbukti saat aku berada di sana selama tiga bulan. Dan paham betul karakter "orang dalam" yang membawa aku sampai ke sana. Ah ... aku tak mau mengungkit masa lalu kelam tersebut. Aku muak mengingat perlakuannya terhadap guru-guru lain yang sebagian haknya tak diberi, padahal guru itu begitu berjasa dan berbakti sepenuh hati mengajar anak didik yang dititipkannya. Namun kebaikan guru terkadang banyak dimanfaatkan. Karena itu aku pulang dan kembali ke kampung halaman.

Di satu pihak aku menyesal sebab waktu emas aku terbuang begitu saja, di pihak lain aku bahagia sebab aku bisa keluar dari lingkungan penjara. Waktu itu aku hanya bisa berdoa. Moga-moga Tuhan menggantikan sesuatu yang paling berharga dan mengabulkan permintaan doa hambanya.

Dan doa-doa itu betul-betul terkabul bahwa aku mendapat sesuatu yang lebih berharga. Aku bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang selama ini aku impikan, kendati perjalanan awal itu cukup terjal seperti melewati onggokan batu besar menghadang pengguna jalan. Dan aku memecahkan onggokan batu besar itu di tengah perjalanan, kendati aku sempat putus asa karena mustahil bisa melewati tantangan itu semua.

Kembali ke Pesantren Lagi: Secercah Harapan Kuliah

Aku akan menceritakan semua perjalanan memecahkan onggokan batu besar itu. Karena itu simak baik-baik, ya.

Itu sejak kakak dan istrinya menawarkan aku untuk bantu mengajar Alquran lagi di suatu pesantren daerah Kaliwates, Jember. Aku berkenan dan keluarga mengizinkan. Akhirnya aku meniatkan diri dalam kebaikan, tidak hanya bantu mengajar sebetulnya, tetapi lebih kepada belajar kembali menjadi santri. Itu artinya aku ingin menjadi santri baru dan belajar hal-hal baru lagi. 

Aku merasa bahwa pesantren ini seperti jalan terang kesempatan meraih harapan. Awalnya, pada saat keberangkatan dan sampai di pesantren tempat aku akan mengajar santri, perasaan antara lima puluh persen akan betah dan lima puluh persen tidak akan betah menyelimuti diri. Namun sejak masuk kamar yang disediakan pengurus pondok itu aku langsung seratus persen betah; sebab, dalam ruangan berukuran tiga kali lima meter itu, kamar itu disesaki buku-buku bermutu.

"Kalau ustad suka baca buku, silakan buku-buku itu boleh dibaca sepuasnya," kata pengurus yang menemani aku malam itu.

Aku senang sekali atas tawarannya dan bertanya kepada pengurus itu; punya siapa buku-buku bagus sebanyak itu, dan pengurus bilang bahwa buku-buku itu milik adiknya Gus; yang waktu itu masih kuliah pada program studi sejarah di Jember. Ia juga bilang bahwa kebanyakan santri di sini masih sekolah madrasah aliyah dan sebagian lain masih kuliah di IAIN Jember.

Anda tahu, perasaan aku yang awalnya kendor mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena sudah empat tahun sejak aku lulus sekolah ketika  itu juga membuncah kembali; semangat itu berkoar-koar setiap kali melihat sebagian santri kuliahan lewat depan kamarku, dan aku bertanya habis dari mana,  kata mereka baru datang kuliah.

Lagi-lagi aku ingin kuliah. Aku ingin hak aku sebagai warganegara, sebagai sesama anak bangsa terpenuhi; sebab pendidikan adalah hak semua anak bangsa, entah bagaimana caranya aku akan menuntut hak itu bahwa aku harus kuliah tahun ini! (Tentang kelanjutan cerita ini baca: Memoar Kuliah(2): Kesan Proses Belajar dan Orang-orang Baik). 

Selasa, 04 Juni 2024 0 Komentar

Tembok

Tembok, pikir mahasiswa yang duduk menggenggam buku sastra di dalam kelas. Jika keadaan kuliah kini membosankan, dia sering merasa bahwa dirinya adalah tembok.

Seandainya kehidupan kampus layaknya lautan, dia akan mengarungi samudra, bercumbu dengan gelombang ombak, bermain dengan ikan-ikan, dan mengendalikan perahu layar yang mungkin sewaktu-waktu akan menenggelamkan dirinya, dan dia sigap mengambil tindakan di laut lepas itu. Tapi kini dia berada dalam kampus, kehidupan yang dirasakannya sepi diskusi dua tahun terakhir ini bagaikan tembok: memberi sekat, mengejar prestise akreditasi, mengajar kecerdasan teknokratis, menghambat kreatifitas, memenjara imajinasi, dan membelenggu kemanusiaan mahasiswa.

"Aku akan pulang," pikirnya saat menginjak semester akhir di teras kampus itu mengurusi berkas-berkas, dan dia membayangkan nasib orang-orang miskin terhantar di desanya. "Aku rindu kehidupan desa," batinnya. "Aku ingin menyuapi sebutir nasi di mulut keriput Mak yang sedang terbaring sakit, membantu Bapak di ladang milik orang kaya, dan menemani adik belajar membaca yang baru masuk SD dua bulan lalu."

***

Setelah empat tahun lalu lulus, mahasiswa itu melipat jubah kesarjanaannya, membaurkan diri bersama masyarakat di kampung halamannya, dan mendialogkan ilmu dengan kehidupan.

Satu minggu berada di kampung halaman, kini dia dan bapaknya berada di tengah sawah, matahari menyetrika punggungnya, pilu keringat mengguyur sekujur tubuhnya yang kini mulai tak lagi gagah seperti dulu berada di kampus, dan dia tetap gemar membaca buku sastra; sebab buku sastra baginya adalah pelangi kehidupan itu sendiri.[]

Jumat, 10 Mei 2024 0 Komentar

Apa Tujuan Kita Saling Mencintai dalam Ikatan Pernikahan?

Saya kok tiba-tiba gatal ingin membahas tujuan pernikahan dan kaitan menafsir puisi masyhur Eyang Sapardi ini ya.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Barangkali kita perlu duduk sejenak untuk memikirkan ulang tujuan sebuah pernikahan. (Khususnya yang belum menikah atau boleh juga yang sudah menikah karena tersesat di tengah jalan misalnya). Sebab kadangkala kita lupa apa tujuan pengambilan keputusan dalam institusi pernikahan. Seolah-olah tujuan saling mencintai dalam ikatan pernikahan ialah kebahagiaan. Begitukah tepatnya?

***
Sebagian pembaca menangkap puisi itu ala kadarnya: cinta bertepuk sebelah tangan atau cinta yang tak direstui atau nada tafsir serupa lainnya. Padahal maknanya, menurut tinjauan analisis saya sebagai penggemar puisi bagus, tidak sesederhana itu.

Mari coba kita bedah kemungkinan lain makna mendalam puisi masyhur itu.

Saya menangkap makna puisi ini sebentuk pembuktian cinta sejati, sebentuk pembuktian cinta ilaihi dua insan, sebagai suatu ungkapan "yang tak sempat diucapkan" Kasih (K: besar) yang telah, atau pasti, sampai pada maut, pada akhir kehidupannya.

Dalam ketidakmampuan mengungkapkan isi hatinya itulah Kasih mengibaratkan perasaan kekasih yang, atau akan, ditinggalkannya seperti kayu yang menyerahkan diri kepada api; seperti awan kepada hujan. Karena itu, katanya, "aku ingin mencintaimu dengan sederhana" saja, meskipun tidak sesederhana itu pada kenyataannya.

Seolah-olah Kasih yang telah, atau akan, meninggal itu ingin mengatakan demikian. Coba perhatikan pada bait pertama.

"kayu kepada api yang menjadikannya abu"

Kamu berkobar tanpa aku. Kamu harus tetap hidup meski tanpa aku. Begitulah kayu kepada api. Kayu yang tampak kokoh akan menjadi abu tak kala kamu semakin berkobar dilahap api kesedihan. Semakin berkobarnya kamu, semakin aku tiada.

Kemudian semakin terang maknanya pada bait berikutnya.

"awan kepada hujan yang menjadikannya tiada"

Kamu deras tanpa aku. Kamu harus tetap bahagia meski hidup tanpa aku. Begitulah awan kepada hujan. Awan yang tampak kelabu akan semakin deras tak kala kamu menangis dikoyak hujan kesedihan. Semakin menangis kamu, semakin aku deras. Begitupun kamu sayang. Seolah-olah begitu, aih.

Lalu apa tujuan kita saling mencintai dalam ikatan sebuah pernikahan jika pada ujung ceritanya perpisahan?

Secara spontan kebanyakan orang akan menjawab adalah kebahagiaan. Bagi saya bukan. Tujuan saling mencintai dalam ikatan pernikahan bukan kebahagiaan, melainkan mempersiapkan pasangan satu sama lain untuk mampu berdiri tegak bertahan hidup meski kelak akan berpisah. Berpisah dimaksud hanya sekadar perpisahan secara jasmani, sementara secara rohani pada hakikatnya kita tidak pernah berpisah; sebab kerajaan kita bukan di dunia, melainkan di akhirat. 

Puisi Eyang Sapardi ingin mengungkapkan makna cinta yang tersirat semacam itu. "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana ..." Meski kita tahu mencintai tidak sesederhana itu. 

Bukankah setelah kepergian Kasih yang kita cintai itu akan tetap melekat abadi dalam kenangan hati dan pikiran? Bukankah begitu keimanan kita dalam perjanjian agung bersama Allah di hadapan bapak penghulu itu?[]

Selasa, 05 Maret 2024 0 Komentar

Doa Ibu

Saya berdoa moga-moga semua doa Ibu dikabulkan oleh Tuhan; sebab saya tahu bahwa Ibu saya mendoakan saya dalam kebaikan. Misalnya Ibu sering berdoa agar anaknya mendapat jodoh yang shalihah, sesuatu yang sering didengungkan oleh Ibu pada suatu kesempatan duduk bersama dikala menikmati suasana hujan turun dari langit sore menjelang malam itu, dan saya mengaminkan dalam hati, diam-diam, moga-moga semua doa Ibu dikabulkan Tuhan. Amin ... 
Selasa, 12 September 2023 0 Komentar

Aku Butuh Teman Curhat

Nampaknya kini aku tak lagi bisa memendam perasaan yang, entah mengapa bisa demikian, sering menyakiti diri sendiri: sebuah perasaan murung yang sering kali aku pendam dalam-dalam jika punya masalah besar ataupun kecil (baik sama temen, sama keluarga, sama siapa pun). Nyaris aku mengalami kemurungan diri berhari-hari. Lebih-lebih dalam satu tahun terakhir ini; aku tak bisa bercerita atau tak punya temen untuk bercerita. 

Hanya dengan menulis ini sedikit banyak membantu aku keluar dari jeratan stress, frustasi bahkan depresi. Seolah-olah masalah ini tak lagi ada jalan keluar; tak ada lagi jalan yang membuatku tentram.

Bisakah aku sembuh dari lingkaran setan ini, lingkaran masalah yang aku pendam sendiri? 

Nampaknya sampai hari ini aku belum bisa bercerita kepada siapa saja; entah kepada temen, kenalan, atau orang terdekat sekali pun, bahkan kepada orangtua. Itu artinya penyakit ini belum sembuh. 

Tapi, aku tak bisa terus menerus punya karakter demikian. Aku lelah. Aku ingin sembuh dari  penyakit kemurungan ini. 

Aku mulai menelusuri, berpikir sedemikian panjang jika sedang sendiri, merenung di ruang sepi, sebenarnya ada apa dengan diriku ini? 

Aku belum menemukan jawaban pasti; mengapa aku gampang stress, frustasi, merasa tertekan akan suatu hal, dan imbasnya ialah kemurungan berhari-hari, sulit keluar menemui orang, malas berbicara entah dengan siapa. 

Aku bertanya di depan cermin; sejak kapan kau seperti itu? Aku kira sejak kecil; dimana jikalau aku punya masalah, tak seorang pun mau mendengarkan apa masalah yang aku pendem, apa yang aku butuhkan, dan apa yang aku sesali berhari-hari sehingga aku punya karakter pendiam dan sulit bercerita. 

Dulu aku punya teman dekat buat curhat, tempat bercerita segala hal yang membuat aku lega dari jeratan masalah. Namun teman yang kini aku maksud nyaris tak ada lagi kabar; tak ada lagi jejak yang bisa aku telusuri; tak ada lagi orang yang bisa aku percaya untuk bercerita banyak hal. 

Ia adalah sahabat kecil. Kini ia telah punya suami dan buah hati namun saking deketnya aku dengannya, aku bebas saja menghubungi dia kapan pun yang aku mau, asal sedang ada waktu longgar. 

Aku akan bercerita banyak hal kepadanya: tentang aku yang sekarang sedang mencari pasangan hidup; tentang aku yang sekarang dilanda kemurungan; tentang aku dan orangtua sedang tak baik-baik saja; tentang apa saja yang aku hadapi dalam menjalani kehidupan ini. 

Namun justru kini aku nyaris tak pernah mendengar lagi kabar tentangnya: sesuatu yang aku butuhkan hari ini. Ialah orang yang tepat buat aku bercerita banyak hal. 

Tapi ... siapa kah orang yang tepat buat aku bercerita banyak hal?
Minggu, 03 September 2023 0 Komentar

Mari Menjadi Gila


Dibanding baca buku berat-berat yang bikin kepala anda berkerut, akan jauh lebih menjanjikan kehidupan masa depan anda  dengan berselancar di media sosial, berkomentar sesuka hati anda sepedas mungkin di kolom komentar media sosial orang lain, adalah hal paling bahagia menjalani hidup di dunia ini, dengan demikian kehidupan bermasyarakat semakin berwarna dan semakin sejahtera bahkan tercerahkan orang anda. 

Tak peduli lagi berpikir, apalagi merenung, apakah waktu yang sedemikian penting dan berharga itu punya arti atau tidak, itu hal lain. Yang terpenting ialah bagaimana anda membuang-buang waktu itu sebebas-bebasnya, tanpa penyesalan dan tanpa pertimbangan; adalah bahwa kelak kehidupan di masa tua anda sudah ada yang menjanjikan itu semua. 

Perkara berarti atau tidak bagi sesama umat manusia? Itu perkara lain. Hari ini adalah hari paling istimewa untuk anda bermain-bermain, berselancar di banyak tempat sebebas mungkin, entah di instagram, tiktok, twitter, facebook, dst. 

Selanjutnya ... 

Di tengah krisis intelektual hari ini, berita-berita yang kian membodohi anda jauh lebih berarti bagi keberlangsungan anda. Santapan berita-berita itu tak perlu lagi anda verifikasi, apakah benar atau tidak, itu soal lain; apakah bermanfaat atau tidak, itu juga soal lain; apakah artis itu sedang memanfaatkan media massa sebagai metamorfosis tetek bengek dramanya adalah konsumsi paling laku dan paling maknyus bagi anda dan masa depan kehidupan anda. 

Jika artis dan para kroninya hari ini hidup kaya raya, sembari pamer harta, bahkan menuhankannya, seolah-olah hidup adalah harta itu sendiri, ialah hal itu menunjukkan kontribusi terbaik anda bagi kehidupan mereka. 

Anda tak perlu khawatir jika suatu saat nanti anda jatuh miskin, baik secara moral maupun intelektual. Artis adalah jalan satu-satunya tempat anda berlabuh. Anda bisa meminta fatwa atau nasehat pada mereka, barangkali mereka dapat membantu kehidupan anda. 

Mungkin, artis teman akrab baik anda itu, adalah orang-orang yang paling berhutang budi luhur atas jasa-jasa anda terdahulu, sebagai fans, sebagai orang penting. Mungkin, artis itulah orang pertama yang bakal menolong anda. Dan barangkali juga dapat  menyelamatkan kehidupan anda selanjutnya. Karena mereka punya hutang budi luhur bagi anda. 

Oleh karena itu, anda tak perlu lagi baca buku berat-berat, belajar dan mengarungi lautan ilmu, sudah tak penting lagi bagi anda, sebab kehidupan anda sudah ada yang menjanjikan; siapa yang menjanjikan itu semua? 

Ya ... Anda sudah tahu dan paham betul jawabannya: instagram, facebook, tiktok, artis, mungkin juga opa-opa, dst. 
Minggu, 27 Agustus 2023 0 Komentar

Surat untuk Kawan-kawan KKN


Ada sebuah lagu hits yang selalu mengingatkan saya akan suatu hal: kenangan masa-masa KKN. Liriknya menarik dan menyentuh perasaan kami:

"Berharap suatu saat nanti...
Kau dan aku kan bertemu lagi...
Seperti yang kau ucapkan...
Sebelum kau tinggalkan aku"

Sampai pada lirik ini biasanya saya teringat kawan-kawan dan 'berharap suatu saat nanti' kami berjumpa kembali seperti janjinya dulu sebelum kami sama-sama kembali ke rumah masing-masing. Tapi sampai saat ini kami belum juga bersua.

Mungkin sebagian mereka lupa atau sengaja melupakan hal itu; tetapi saya yakin dan meyakini bahwa sesungguhnya mereka memiliki perasaan dan harapan yang sama: ingin berjumpa tetapi masing-masing dari kami sukar menyiapkan waktu senggang sekadar sehari atau setengah hari saja.

Terlepas lupa atau sengaja melupakan, karena itu saya menulis; menulis surat ini untuk mereka; untuk menyentuh kesadarannya; siapa tahu dibaca dan ditepati janjinya untuk kembali bersua. Ya, nggak? Hem.

Terlepas sibuk atau memiliki kesibukan lain, sesungguhnya terletak pada prioritas waktu kami masing-masing dan sekiranya prioritas bersua itu dibutuhkan, saya yakin dan meyakini barang sehari atau setengah hari saja bisa kok dilaksanakan.

Nah, kini pilihan kami adalah menempatkan prioritas waktu tersebut; sungguh kami sama-sama ingin bersua; mungkin dengan saya menulis surat ini; barang tiga atau lima kawan saja akan menyanggupi usulan ini; saya berharap demikian terlaksana.

Sesungguhnya bukan lirik itu saja yang membuat saya selalu teringat pada mereka, jikalau bukan kebaikan-kebaikan mereka; juga keusilan-keusilannya serta ha hi hinya.

Satu hal yang mungkin akan jadi catatan cerita kita pada suatu hari nanti, setelah kami sama-sama memiliki wilayah kehidupan sendiri dan memiliki anak cucu yang mungil-mungil, adalah saat nanti kami bisa menceritakan kepingan-kepingan kenangan banyak hal tentang masa kuliah dahulu kala.

Oleh karena itu, cerita-cerita kebaikan itu yang akan jadi saksi bahwa kami pernah hidup di dunia yang sementara ini. Ini surat untuk mereka, moga-moga jadi catatan kenangan kita.

***
Dear kawan-kawan KKN,

Kepada siapapun yang sempat atau sedang membaca catatan kenangan ini, aku ingin menulis banyak hal tentang kebaikan kalian dan moga-moga kalian mengingatnya.

Di Bukit Geopark

Di bukit itu kita pernah menyaksikan keindahan alam sebelum melangkah lebih jauh perjalanan selama empat puluh hari ke depan. Ya, kita hanya sekadar bermain-main dan berkenalan dengan alam; dengan perasaan senang nan bahagia. Kita tertawa dan terpesona keindahan dunia, di bukit geopark itu.

Kita melukis alam dalam benak kita entah sampai kapan lukisan alam itu akan tetap menempel lekat dalam ingatan, yang kelak jadi kenangan.

Pak Sadi mendampingi kita seperti layaknya anak sendiri. Ia rela menghabiskan waktu untuk kita yang baru pertama kali melihat alam; o, maksudnya alam di bukit geopark itu.

Kita bersemangat dan bergembira atas kebaikan-kebaikannya. Mungkin kita lupa mengucap terima kasih kepadanya tetapi kita pun tak lupa mengingat kontribusi kebaikannya. Kita hanya butuh sejenak waktu agar tetap mengingat kebaikannya; dengan menuliskan dan memikirkan kebaikan-kebaikannya.

Kedinginan Akut

Masihkah kalian ingat saat bapak perangkat desa itu mengajak kita untuk turut-serta gotong royong memangkas rerumputan di sekitar jalan menuju kawah Ijen bersamaan turunnya rintik-rintik hujan membuat kita semua kedinginan akut sehingga beberapa di antara kita satu sama lain menyalahkan dan menanyakan mengapa tidak memakai jaket sebelum perjalanan itu berlangsung?

Semua saling menghantam kesalahan entah kepada siapa entah bagaimana kejadiannya.

Empat lelaki mengatakan ini salah Sisil! Ia pun membalas ini salah Mey! Ia pun tak mau kalah membalas santai dengan mengatakan ini salah kita semua! Ups. Kelar persoalan . . .

Undangan Salawatan

Kalau saja mengingat undangan salawatan Pak Ustad itu kita tak lupa nama Faiz yang jadi sasaran niatannya; o, moga-moga si Faiz berdamai dengan diri sendiri setelah ini dan, tentu saja, memaafkannya.

Bukan untuk diingat, bukan pula untuk dibenci, dan bukan pula untuk didiami, melainkan dijadikan pelajaran, eh. Barangkali kita jadi refleksi diri; jangan-jangan kita memang layak mendapat pelajaran apa saja, termasuk orang yang terkadang memaksa ingin dicinta, tapi lupa mencinta, maksudnya adalah sebelum mencinta orang, keabsahan mencinta adalah diri kita sendiri, sebelum mencinta orang lain. Ah, lupakanlah!

Dan surat ini pun dihadirkan dan ditulis, salah satu tujuannya, adalah untuk merefleksikan ulang bahwa kita saling mencintai diri sendiri, dalam arti memantulkan cahaya ilahi dalam diri kita ini.

Kepada siapapun, surat ini aku kirim dengan perasaan maha cinta, karena ia adalah hakikat pertemanan seutuhnya. Demikian.

Rabu, 26 Juli 2023 0 Komentar

Keputusan yang Baik


Sebetulnya, jika aku boleh jujur, aku tidak perlu kecewa (dan memang tidak ada gunanya juga untuk kecewa) setelah tahu, dengan permintaan yang aku ajukan padanya, bahwa keputusan yang ia ambil, ternyata tidak seperti awal kali ia katakan padaku: menikah. Tetapi, bagaimana pun dan harus aku akui, jika aku boleh jujur, bahwa aku sedikit kecewa (untuk tidak mengatakan sangat kecewa). Namun aku tidak ingin berlarut-larut dalam kekecewaan itu; sebab itu tidak berarti sama sekali. 

Sebelum ia mengambil keputusan itu kami mulanya beberapa minggu sempat jeda komunikasi untuk sama-sama fokus pada apa yang sedang menjadi prioritas kegiatan kami masing-masing dan oleh karena itu, ada rentang waktu menyisakan berpikir dan berdialog dengan diri masing-masing sebelum keputusan itu aku dengar. 

Aku fokus pada apa yang aku kerjakan. Yaitu mengerjakan skripsi (sekaligus bekerja apa saja jika ada lowongan untuk menabung pundi-pundi rupiah untuk melamarnya dan bekerja lain sebagai penulis lepas untuk tambahan pemasukan). Begitu pun ia fokus pada apa yang ia kerjakan. Yaitu ... entah mengapa aku tidak mau mengatakan apa pekerjaannya (karena itu kurang baik jika dikatakan di sini dan lebih baik aku kiranya tidak mau mengatakannya, dan pada intinya, ia punya karir lebih menjanjikan daripada aku, tentu saja). 

Namun, entah karena alasan apa, berpikir dan berdialog dengan diri sendiri itu ternyata melahirkan keputusan yang dilematis mungkin. Ia sempat bingung harus mengatakan apa dan aku pun bingung harus menunggu jawaban apa (yang sebenarnya aku sudah memutuskan setelah aku dan keluarga siap untuk melamarnya; tetapi itu kandas kemudian hari). 

Pada satu sisi mulanya ia ingin menikah dan pada sisi yang lain, pada waktu sebelum kami kenal lebih dekat dan belum begitu yakin, aku yang belum begitu siap menikah, dengan alasan ekonomi belum siap. 

Setelah kemudian hari aku punya keyakinan untuk membersamainya, aku bekerja untuk menyiapkan kebutuhan ekonomi itu; setidaknya dana untuk melamarnya. Tetapi, rupanya aku salah sasaran. Orang yang aku perjuangkan ternyata berubah haluan (entah karena apa dan oleh sebab apa; aku tak ingin memaksa ia untuk mengatakan apa alasannya). Yang jelas aku tetap berbaik sangka padanya, perkara karena aku belum mapan secara ekonomi dan karir; itu hal lain (meskipun tidak menutup kemungkinan ini ada keterkaitan pertimbangan). 

***

Sekarang aku jadi punya kesimpulan lain soal menikah ini; setelah membaca beberapa buku dan fenomena yang ada di masyarakat; juga atas dasar pengalaman ini. Bahwa nampaknya menikah atau melamar seseorang itu tidak cukup sebatas kesiapan ekonomi. Aku menyadari bahwa soal ekonomi ini amat penting (untuk tidak mengatakan paling penting); tetapi bagiku yang lebih penting adalah komitmen dan menerima kekurangan masing-masing. Kedua aspek ini, komitmen dan menerima, memang tidak mudah dan butuh kesiapan antar kedua belah pihak; dengan saling mengerti satu sama lain. 

Tetapi, jika beban ekonomi itu masih tetap bergelayut jadi tanggungjawab dominan satu kedua belah pihak, hanya calon suami saja misalnya, nampaknya impian menikah itu sulit disegerakan. Aku tetap berpandangan bahwa seorang pria atau calon suami punya kewajiban mutlak untuk menafkahi perjalanan pernikahannya tetapi hal itu bukan kewajiban mutlak sepenuhnya. Dengan kata lain, ada kewajiban mutlak bersama di dalamnya, tidak hanya satu orang terkait. Ini untuk menghindari dominasi perjalanan pernikahan siapa yang paling banyak tanggungjawabnya. 

Dengan demikian, komitmen dan menerima kekurangan masing-masing pihak sebagai proses perjalanan menikah itu lebih bisa diterima dengan lapang dada. Tak jadi soal apakah si calon suami hanya tukang kuli murahan atau si calon istri wanita karir. Bagi aku, menikah adalah tentang menerima dan komitmen perjanjian agung antar kedua belah pihak kepada Tuhan. 

Aku berterima kasih sudah mendapat keputusan yang terbaik, setidaknya masing-masing kami punya kebebasan memilih pilihan lain yang sekiranya lebih tepat. 
Minggu, 30 April 2023 0 Komentar

Ta'aruf


Entah mengapa lebaran tahun ini hati terasa berbunga-bunga. Mungkin karena sesuatu yang memungkinkan saya akan menikah, eh. Tapi bukan tahun ini, melainkan setelah mengetahui secara pasti, sedalam-dalam keluarganya, calon istri saya. Dan itu artinya kami sekarang sedang dalam masa ta'aruf (bahasa keren agamanya). 

Perkenalan saya dengan calon istri--meskipun sebenarnya saya belum bisa memastikan bahwa ia benar-benar istri saya, tetapi moga-moga dengan menggunakan istilah calon, benar-benar ia jadi istri saya--pada mulanya ketika ia membaca tulisan saya di sebuah koran lokal dan ia cari tahu siapa saya sebenarnya melalui tulisan lain dan usut punya usut terjadilah percakapan di kolom chat instagram. 

Entah mengapa katanya ia begitu ingin tahu siapa saya, eh. Maklum. Mungkin ia sedang benar-benar ingin menikah; jadi maklum kalau saya harus memaklumi gelagatnya yang terkesan selalu mengarah ke pernikahan dalam sebuah obrolan. Oleh sebab itu saya menuruti untuk kenalan lebih lanjut tentang hubungan kami pada suatu hari nanti; sebab kami memiliki kecocokan, baik dalam berpikir maupun dalam menatap masa depan. 

Pertama-pertama ia menanyakan saya mahasiswa dari kampus mana dan berlanjut ke pertanyaan-pertanyaan tak begitu penting dan ternyata pertanyaan-pertanyaan tak begitu penting itu kemudian menyusul juga ke hal-hal agak penting mengenai masa depan. 

Dan, seperti ada hembusan angin segar yang menusuk hati, kami memutuskan bertemu dan berkenalan langsung ke masing-masing keluarga besar pada lebaran kemarin tentang hiburan kami ke depan. Tapi, seperti keadaan saya yang tak memungkinkan, Ibu saya berpesan untuk tidak segera buru-buru nikah dan disarankan agar saya segera menuntaskan terlebih dahulu skripsi yang sedang saya garap. 

Kami sepakat. Meskipun sebenarnya agak kurang baik niatan mulia ditunda-tunda. Tapi demi apa yang pernah dahulu saya cita-citakan pada akhirnya kami harus sama-sama merelakan untuk bersabar. 

Dan kami tak tahu pasti tentang takdir  Tuhan berpihak kepada kami atau kepada orang lain. Tapi yang jelas, untuk saat ini, kami sama-sama memutuskan fokus pada apa yang telah direncanakan. Moga-moga.
Jumat, 28 April 2023 0 Komentar

Api

Orang-orang bisa berpikir ilmiah tak kala dihadapkan pada sesuatu yang mengusik pikirannya, namun kemungkinan gagal berlagak ilmiah tak kala ia mulai merasakan cinta atau tersengat api cinta, kata seorang filsuf. 
Kamis, 23 Maret 2023 0 Komentar

Urgensi Khutbah Jum'at tentang Kontrak-Radikalisme dan Terorisme


Upaya pemberangusan bersama virus radikalisme dan terorisme, salah satunya, adalah bagaimana sekiranya materi khotbah Jum’at bermuatan lebih strategis dalam memperingati bahaya penyakit ajakan sesat tersebut. Yang dimaksud virus radikalisme dan terorisme di sini adalah kelompok-kelompok yang mengajarkan serta mengajak kepada masyarakat untuk berideologi dengan mereka; dengan mempertentangkan nilai-nilai ajaran agama versus prinsip-prinsip ideologi Pancasila dan berlawanan dengan UUD 1945 sebagai konstitusi negara.

Khotbah Jum’at merupakan langkah strategis karena tiap-tiap Muslim wajib melaksanakan salat Jum’at. Otomatis tiap Muslim, baik yang awam maupun yang berpendidikan, akan mendengar serta menyimak apa yang dikhotbahkan oleh khatib.

Tentu saja, cara ini jauh lebih bisa dimengerti dan lebih efektif menukik ke jantung setiap Muslim manakala pada suatu keadaan tertentu, masyarakat awam dihadapkan pada suatu tawaran oleh kelompok berbahaya tersebut yang dapat menyebabkan mereka bergabung dan berkelompok dengan visi misi an sich mereka.

Hal ini bisa dimengerti mengapa virus radikalisme dan terorisme sangat penting diantisipasi melalui khotbah Jum’at. Sebab tidak semua masyarakat Muslim, khususnya kalangan awam, mengerti tentang bahayanya penyebaran aliran berbahaya tersebut.

Orang awam tak sempat memikirkan apa itu radikalisme atau terorisme dan betapa begitu berbahayanya bagi kehidupan mereka. Orang awam jauh lebih penting memikirkan bagaimana menyambung perut untuk menopang hidup; lebih-lebih masyarakat awam yang masuk kelas sosial rendah secara ekonomi maupun pendidikan.

Tak menutup kemungkinan, orang-orang awam yang tak sempat memikirkan apa itu radikalisme atau terorisme, bisa bebas begitu saja dari persebaran virus aliran berbahaya tersebut. Justru potensial manakala perut orang awam tak lagi bisa berkompromi manakala pikiran telah buntu akan mencari jalan pintas lain dengan bergabung di suatu komunitas yang dapat memenuhi kebutuhannya.

Sebut saja kelompok yang dimaksud adalah kelompok radikal-teroris tersebut. Orang akan berpikir instan manakala dihadapkan pada suatu keadaan tertentu; keterdesakan kebutuhan yang menuntut mereka untuk bertindak sesuai kebutuhannya. Dan hal tersebut bisa jadi dimanfaatkan oleh kelompok radikal-teroris.

Bukan tidak mungkin. Bukan tidak mungkin orang awam akan tergiur oleh tawaran strategis kelompok radikal-teroris tersebut untuk bergabung dan bergaul dengan mereka. Berapa banyak orang awam serta orang miskin tersesat karena keterdesakan kebutuhan ekonomi dan pengetahuan tentang bahaya radikal-teroris tersebut. Mereka merasa lebih terjamin kehidupannya dengan bergabung bersama kelompok mereka, meskipun sebetulnya hal tersebut siasat saja.

Jelas hal tersebut potensial sekali menjadi goncangan keimanan dan keselamatan hidupnya. Oleh karena itu, khatib Jum’at memiliki peranan strateginya untuk mengedukasi masyarakat tentang bahayanya kelompok radikal-terorisme. Artinya harus ada materi khotbah Jum’at persuasif untuk memahami bahaya kelompok tersebut. Ini urgen.

Masjid NU-Muhammadiyah Sebuah Langkah Awal

Untuk memulai bisa melalui kedua masjid organisasi terbesar ini. Seperti kita ketahui bersama bahwa kedua organisasi tersebut di Indonesia sangat besar kontribusinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai ajaran agama.

Maka masjid-masjid yang berafiliasi dan yang bergaya corak kultur dua organisasi besar tersebut, menjadi langkah awal yang sangat tepat dalam rangka mengedukasi masyarakat tentang bahayanya kelompok radikal-teroris tersebut.

Misalnya, setiap khatib Jum’at sebelum menjalankan jadwal giliran berkhotbahnya, dua organisasi besar tersebut menginstruksikan kepada masjid-masjid dengan menyiapkan materi-materi dasar tentang apa itu gerakan radikalisme-terorisme, bagaimana persebarannya di tengah masyarakat, dan apa saja tujuan serta bahayanya gerakan tersebut dan sebagainya.

Namun demikian kiranya tak cukup sampai pada batas pengenalan. Bagaimana gerakan-gerakan tersebut sengaja dibentuk untuk membentur-benturkan agama dengan negara; antara negara dengan agama; dengan tujuan spesifik menjadikan negara ini menjadi negara agama.

Oleh karena itu, harus ada kolaborasi materi tentang keberagamaan dan kebangsaan; tentang perbedaan dan persamaan antar sesama warga negara; tentang hak-hak sesama sebagai manusia; tentang manusia dan kemanusiaan; tentang damai dan keselamatan, dan sebisa mungkin meminimalisir permusuhan yang kerapkali menjadi pemicu lahirnya konflik tak berkesudahan.

Oleh karena itu, materi-materi khotbah Jum’at sebisa mungkin menyisipkan dan meletakkan cinta tanah air dan kasih sayang sesama sebagai kewajiban yang harus terpaut dalam jiwa raga warga negara. Hal ini selaras dengan ajaran-ajaran Walisongo di masa lalu yang mengajarkan kepada kita bagaimana mencintai bangsa dan tanah air kita seperti sekarang ini.

Walisongo sadar dan meyakini bahwa gagasan tentang “mencintai bangsa”, “mencintai tanah air”, “hidup bersama dan menerima perbedaan” adalah cikal bakal lahirnya sebuah peradaban yang dibangun dengan kebersamaan, solidaritas, kemandirian sehingga terbentuklah negara makmur sentosa tanpa diskriminasi-intimidasi; tanpa teror; dan tanpa pertumpahan darah.

Ajaran-ajaran pada leluhur itu, saya yakin dan sangat meyakinkan, bahwa mereka meletakkan kemanusiaan di atas segala-galanya. Oleh karena itu, khotbah Jum’at harus menjadi ruh spiritual agar berdampak pada kemaslahatan sosial; dengan materi-materi yang sebisa mungkin memutus rantai persebaran virus berbahaya ajakan teror-radikal tersebut. Semoga terlaksana.

Terbit di Harakatuna.com 
Senin, 20 Maret 2023 0 Komentar

Proses Menjadi Manusia


Pengalaman yang kita serap dan masuk ke alam pikiran dan perasaan menjadi produk tindakan-tindakan kita dalam menanggapi suatu hal (baca: problem kehidupan) atas dua fungsi tersebut. Apabila satu di antara keduanya tidak berfungsi, maka yang akan terjadi adalah emosi. Benar atau tidaknya penyataan ini hanya berdasar pada pengalaman pribadi, namun saya ingin membubuhinya dengan teori neo-psikoanalisis Alfred Adler.

Mungkin kita pernah mengalami hal yang sama. Mungkin kita pernah memiliki cerita dan pengalaman yang sama. Mari kita saling belajar dan berproses menjadi manusia bersama-sama …

Sekadar berbagi cerita. Sejak kecil oleh kedua orangtua saya dididik kasar. Lebih-lebih ibu. Namun pada waktu-waktu tenang dan bahagia orangtua mendidik saya dengan kasih sayang dan orang lain pun saya perlakukan dengan kasih sayang (implikasi dari didikan orangtua tersebut). Maka tidak heran kemudian terkadang saya melakukan tindakan-tindakan kasar bahkan kepada orang lain. Pun sebaliknya: Perlakukan saya terhadap orangtua dan orang lain dengan kasih sayang—meskipun sangat minim sekali.

Sekali waktu, pernah saya tak mau mengikuti perintah orangtua. Saya menolak dan memberontak karena tidak ingin mengaji al-Qur’an. Alasan saya—dan ini tidak dimengerti orangtua pada waktu itu; terutama ibu—bahwa saya mendapat diskriminasi oleh kawan bahkan saudara sendiri karena saya tidak lancar mengaji.

Alasan lain mengapa saya menolak dan tidak mau mengaji adalah di tempat mengaji pun saya sering mendapat perlakukan kurang enak oleh guru. Oleh guru ngaji telinga saya sering dijewer dan saya menangis dan kesakitan lantaran tidak bisa membaca al-Qur’an dengan baik. Saya malu dan tidak ingin mengaji al-Qur’an lagi.

Lalu kini saya membayangkan dan mencoba merefleksikan ulang atas pengalaman-pengalaman masa kecil itu ke dalam kondisi kehidupan saya saat ini. Bahwa terkadang saya merasa rendah diri dihadapan orang lain. Kerendahan diri ini yang membuat saya emosional untuk mencapai kemampuan orang lain; jika orang lain memperlakukan saya semena-mena.

Bahwa terkadang saya kehilangan nalar sehat dan perasaan manakala bertindak kasar pada suatu waktu tertentu—baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Saya kehilangan kontrol emosional ketika fungsi perasaan dan pikiran sehat itu tidak bisa dikendalikan pada waktu bersamaan.

Tak heran apabila pada suatu ketika saya pernah diperlakukan oleh kawan sendiri dengan tidak “tidak semestinya”, saya marah besar dan emosi saya meluap-luap hingga kehilangan kontrol emosional; bahkan kepada orang lain yang sebelumnya tidak berseteru dengan saya. Tindakan saya seperti percikan api yang bisa melahap dan membakar benda apapun.

Meskipun emosi saya belum sampai pada tahap memaki-memaki dan menjambak rambutnya dan menjotos mukanya, hanya adu mulut saja, saya merasa bahwa ada yang salah dengan tindakan saya setelah perseteruan itu reda.

Saya merasakan mestinya pada waktu itu tidak seharusnya saya terlampau bertindak kasar kepada kawan saya itu. Tapi tindakan saya sudah terlampau berlebihan menanggapi suatu hal tersebut. Saya menyesal dan mengoreksi apa yang telah terjadi pada diri saya hingga menjadi serigala bagi orang lain.

Saya sadar dan menyadari bahwa saya kehilangan satu atau dua fungsi ini: Akal sehat dan perasaan kasih sayang kepada orang lain dalam mencerna permasalahan yang terjadi. 

Apa yang saya lakukan adalah bahwa saya terlampau mengedepankan satu di antara kedua fungsi tersebut dan melupakan kedua fungsi tersebut—yang semestinya dikelola secara seimbang namun karena ketidakmampuan mengolah dua fungsi tersebut—sehingga yang keluar hanyalah emosi berlebihan dan tidak terkontrol atas dua peranan ini: akal sehat dan perasaan.

Inilah mungkin yang dimaksud oleh Alfred Adler apa yang disebut kepribadian superior. Adalah sebuah kepribadian untuk menciptakan kekuatan diri yang mengharapkan kemampuan dan kemapanan serta kesuksesan yang sama; tujuannya adalah untuk menutupi kerendahan diri dihadapan orang lain tadi.

Cerita lain sebaliknya. Pada suatu waktu saya mengobrol dengan kawan (bukan kawan yang dimaksud cerita awal). Disadari atau tidak bahwa ternyata obrolan receh saya menyinggung perasaan mitra lawan bicara dan membuat kawan itu kehilangan nalar sehat dalam mencerna maksud dan tujuan saya mengucapkan kalimat-kalimat itu yang saya semburkan ke telinganya.

Dia emosi. Dia mengumpat. Amarahnya meluap-luap persis seperti luapan emosi yang saya ceritakan di awal. Kedua kasus cerita itu mungkin saling kehilangan dua fungsi ini: Pikiran sehat dan perasaan jernih.

Padahal maksud saya tidak seperti apa yang dipersepsi oleh pikiran dan perasaan kawan saya tersebut. Maksud saya adalah begini … dan mitra lawan bicara saya menanggapi begitu … 

Tetapi ya sudahlah nasi telah jadi bubur.

Kesimpulan dua cerita pengalaman ini adalah saya cenderung menyalahkan orang jika orang lain memperlakukan saya “tidak semestinya”. Pun sebaliknya: Perlakuan saya kepada orang lain yang “tidak semestinya” pasti pula menyalahkan. 

Mungkin ini adalah cara pandang kepribadian seseorang memandang sebuah kehidupan yang menjadi gaya hidupnya. Seseorang cenderung menyalahkan orang lain; sementara kesalahan diri sendiri luput koreksi dari dirinya sendiri.

Konon—menurut cerita banyak orang—perempuan itu lebih mengedepankan perasaan dibanding pikiran. Sementara lelaki sebaliknya: lebih mengedepankan pikiran dibanding perasaan. Benar atau tidak menurut anggapan ini, kiranya perlu telaah ulang agar tidak sesat pikir dan menyesatkan pikiran orang lain.

Terlepas penyataan di atas (maksudnya anggapan kontradiktif tentang perasaan lelaki dan perempuan) pada kasus cerita pertama dan kedua atas pengalaman saya di atas bisa dibaca bahwa terkadang antara perasaan dan pikiran sehat lelaki dan perempuan memiliki pengelolaan emosi yang nyaris sulit diprediksi kapan perasaan harus dikedepankan dan kapan pula pikiran sehat diutamakan.

Kedua kasus itu mengindikasikan bahwa kedua fungsi itu harus sejalan secara bersamaan manakala kita dipertemukan pada sebuah kasus yang membuat diri kita nyaris kehilangan kontrol emosi. Kasus demikian hampir melibatkan banyak orang. Namun bagi orang yang paham mengolah fungsi perasaan dan pikiran ini membuat orang tersebut bijak dalam menanggapi suatu hal yang mengusik emosionalnya.

Sejak saya menyadari bahwa ada kekurangan dalam diri saya— juga orang lain tentu saja—dalam mengontrol emosional, pada saat itulah kesadaran belajar mengolah emosi adalah sebuah proses keniscayaan. Dan saya bisa menerima berbagai macam jenis manusia di planet bumi ini. Kreatifitas cara pandang demikianlah yang menuntun seseorang bergerak dari sebelumnya bringas kemudian menyadari sebuah kesalahan diri yang pernah dilakukannya; sehingga kita lebih optimistis menatap masa depan lebih baik lagi.

Pertama-tama saya harus sadar dan menyadari bahwa ada kekurangan pada setiap diri seseorang—baik saya maupun orang lain–dan keistimewaan tersembunyi yang menuntun seseorang tersebut berperilaku sesuai minat sosial.

Dengan cara itu saya—dan kita semua—belajar dan saling mempelajari kekurangan dan kelebihan kita masing-masing dan bagaimana menerima perbedaan sikap pada setiap kita yang sedang berproses menjadi manusia seutuhnya.

Memang demikianlah karakter manusia bahwa pada dasarnya proses menjadi manusia itulah paling sulit dalam hidup ini. Namun kita tak pernah lupa bukan, kalau kita hidup untuk terus saling belajar dari kesalahan-kesalahan?
Sabtu, 18 Maret 2023 0 Komentar

Di Musala itu ...

Ibu mengatakan, sebelum akhirnya meninggalkan kami berdua tepat pada hari ke 17 ramadan 2021, setelah sebelumnya kami mengecewakan permintaannya untuk salat tarawih di musala, bahwa menjadi santri adalah tanggungjawab ananda kepada Tuhan yang menciptakan kita. Seberapa pun tinggi ilmu ananda peroleh di pesantren itu jikalau ilmu ananda tak membuahkan akhlak sama seperti tanaman padi yang gagal menjadi nasi, ucapnya sebelum sujud terakhirnya di musala itu.
Senin, 20 Februari 2023 0 Komentar

Perihal Skripsi


Peralihan zona nyaman menuju zona tantangan seperti halnya memilih ‘iya’ atau ‘tidak’ untuk melanjutkan hidup. Perumpamaan lebih tegasnya ketika kita lapar pilihan kita hanya dua. Makan atau tidak makan. Tak ada pilihan yang ketiga. Pilihan kita bekerja bagaimana menghasilkan uang agar bisa makan atau tidak bekerja, tidak makan (kecuali kalau tetangga kita berbelas kasih tiap hari).

Kita merasa aman ketika punya uang dan, dengan uang itu, bisa beli makanan. Tapi ketika uang tak lagi kita punya, barulah wilayah zona tantang memberi pilihan: apakah ‘iya’ akan bekerja atau ‘tidak’ akan bekerja.

Perumpamaan di atas saya ingin menariknya ke perumpamaan mengerjakan skripsi; atau suatu hal yang memungkinkan kita memilih sesuatu hal atas pilihan hidup; tapi fokus tulisan ini problem skripsi, dan bisa diumpamakan pula dengan perjalanan hidup. 

Mahasiswa memutuskan kuliah; itu berarti ia menanggung tugas menyelesaikan kuliah dengan syarat mengerjakan skripsi. Tanpa syarat ini, mahasiswa tak layak disebut lulus kuliah, kecuali kebijakan kampus mengeluarkan ketentuan lain sebagai pengganti syarat kelulusan tersebut, misalnya mahasiswa yang rajin menulis-nan-publikasi jurnal, bisa diluluskan tanpa syarat skripsi.

Pada umumnya, skripsi adalah syarat mahasiswa dikatakan selesai menempuh studi formalnya. Namun dalam menempuh studi kehidupan, ia takkan pernah selesai, mahasiswa akan terus berproses menjadi manusia, sebagaimana paparan nanti, dengan aneka ragam varian masalah kehidupan. 

Sebagian mahasiswa memilih tidak memenuhi syarat kelulusan tersebut. Saya kira tidak masalah, selama siap atas konsekuensinya. Sebab itu sebuah pilihan. Sebagian mahasiswa lain sebaliknya, memilih dan mengerjakan syarat tersebut. 

Di antara kedua pilihan tersebut adalah mengerjakan atau tidak mengerjakan syarat kelulusan. Dan, ohya, pada konteks pembicaraan ini diluar joki skripsi, sebab hanya mahasiswa tertentu sekarang bisa lulus tanpa mengerjakan skripsi; mahasiswa ini memilih joki tugas kampus; bahkan fenomena terbaru sekelas calon guru besar diduga terlibat kasus nirmoral ini. Sungguh ironis! 

Problem Membaca-Menulis

Saya sering mendapat pesan WhatsApp dari mahasiswa—baik mahasiswa lama, mahasiswa baru dan mahasiswa seangkatan—sejak semester empat; atau lebih tepatnya sejak saya mulai dikenal bisa menulis (meskipun sebenarnya tulisan saya tak begitu bagus, tapi menururt persepsi mereka bagus, menurut saya biasa saja). Pesan itu bentuk keluh kesah mereka perihal tugas kampus dan biasanya paling banyak tugas skripsi.  

Setelah pengaduan keluh kesah itu selesai, selain diskusi adu mulut tentu saja, giliran saya menanggapi. Saya balik bertanya dimana letak kesulitannya. Jawaban pada umumnya kesulitan mereka dalam menulis; dan saya katakan bahwa kunci menulis adalah membaca sebanyak-banyaknya, mengamati, mencermati dann meneliti bagaimana teks itu ditulis.

Tapi kebanyakan mereka tidak suka membaca apalagi meneliti dan menulis. Nahas. Saya katakan ‘itulah masalahnya’. Selama masalah pertama belum diatasi tidak mungkin mengatasi masalah berikutnya (baca: problem menulis). Jika masalah pertama selesai teratasi; maka kasus berikutnya terletak pada kebiasaan menulis. 

Saya tahu bahwa mereka belum terbiasa menulis dan karena itu, saya menyarankan agar latihan menulis setiap hari. Namun saran itu terkadang masih kurang efektif dan biasanya mereka balik menjawab “tapi kan” dan bla bla lainnya. 

Sebenarnya tidak ada jawaban “tapi kan” atau "bla bla lainnya" setelah mahasiswa tahu mana letak masalahnya. Dan kita patut sadar tentang masalah kebiasaan tersebut. Caranya bagaimana membentuk kebiasaan tersebut adalah mengubah cara berpikir kita tentang kebiasaan kita hari ini: mulai membaca banyak dan menulis banyak. 

Jika mahasiswa sudah terbiasa menulis (juga membaca) namun belum sepenuhnya bisa mengatasi masalah yang dihadapinya, satu hal yang harus diingat, ini saran saya, adalah waktu. Ya waktu. Persoalan mahasiswa sekarang adalah “ketidaktahanan” menjalani proses dan menikmati proses belajar; lebih-lebih penelitian.
 
Pada titik kulminasi proses ini saya tidak mau menjawab panjang lebar masalah mereka; sebab hal itu terletak pada daya tahan dirinya sendiri, dan saya tidak punya kewajiban penuh menjawab semua problem mereka; toh mahasiswa pasti punya kesadaran bahwa kuliah adalah proses belajar pembentukan karakter diri secara mandiri dan itu berada dalam kesabaran ia sebagai peneliti; sebagai pembelajar.

Menghadapi Hidup

Oleh karena itu, mengapa tulisan ini mengupas topik skripsi/tugas kampus (atau tugas hidup?), saya ingin mengatakan bahwa penemuan/keberhasilan terhebat di dunia ini, setidaknya pada setiap ukuran pribadi mahasiswa, adalah manusia sadar bahwa sebelumnya mereka mengira tidak akan mampu melakukan suatu hal dan setelah menjalani proses suatu hal tersebut (baca: tantangan), manusia sadar bahwa setiap kita mampu menaklukan tantangan dan memiliki kemampuan dalam melewati tantangan yang penuh ombak berduri itu. 

Saya kira setiap mahasiswa perlu mencoba tantangan dan menaklukan tantangan sebelum tantangan berikutnya akan tiba; akan kita hadapi, dan kita tahu cara bersikap pada tantangan tersebut yang tentu kita sudah terlatih dan terbiasa menghadapi tantangan besar bahkan tantangan menghadapi masa depan itu sendiri. 

Pada konteks ini kita harus—atau mungkin (?)—sepakat bahwa badai kehidupan tidak akan pernah usai;  sebab, setidaknya menurut saya, selama kita masih hidup, badai pasti (!) belum pasti berlalu, meskipun banyak orang mengatakan badai pasti berlalu.

Saya kira, selama kita masih hidup, badai arti kecil maupun besar tetap saja akan tiba; akan kita hadapi, seperti tantangan skripsi yang perlu dan penting kita hadapi dengan sikap, selain bersabar dan berproses menikmati belajar, menerima dan menjalaninya dengan kepala positif. 

Tapi bagaimana menjalani masalah dengan kepala positif? Nah, kini badainya terletak pada cara berpikir kita; bukan pada masalah itu sendiri. Bukankah cara berpikir kita menentukan cara bertindak kita terhadap problem yang sedang kita hadapi, yang terkadang bringas nan pula bijak? 

Saya kira selama manusia masih hidup di dunia akan tetap menghadapi ujian, meskipun porsi ujiannya beraneka ragam, ada yang kecil, ada yang besar atau setengah ringan saja. Sementara tantangan hidup (baca: studi kehidupan) jelas tidak seperti ujian/tugas/skripsi kampus tersebut, melainkan kita justru ditantang menghadapi masalah kehidupan tanpa jadwal; tanpa menjelang waktu; tanpa aba-aba. 

Artinya, pilihan kita tetap pada dua poros ini: “iya” atau “tidak” menghadapi tantangan tersebut. Tapi, tak selamanya hidup ini harus selalu menantang melawan ombak berduri itu bukan? 

Adakalanya kita perlu berkontemplasi sejenak sekaligus menertawakan perjalanan hidup; perjalanan kuliah kita yang kadang asem, kecut, asin, manis, tawar bahkan pahit? 
 
;